Romansa
Karya : Nur Halimah (24)
Perasaan dan
keinginan ini selalu datang menyelimuti jiwa ku, merasuk ke semua organ di
dalam tubuh mungilku, aku tidak dapat membendung perasaan ini, jika aku
berusaha menahannya aku akan mengerang seperti seorang gadis yang frustasi
karena kehilangan sang kekasih dari haknya. Memang aku bukanlah gadis yang
beruntung. Aku hanya gadis pendiam dan mungkin saja aku tidak akan pernah merasakan
manisnya sebuah kehidupan cinta. Aku tak akan sempat memikirkan cinta. Hidupku
hanya untuk meluapkan semua perasaan yang telah mendarah daging ini. Ya, aku
selalu saja punya waktu untuk bersama perasaanku ini, perasaan yang selalu
ingin menuangkan syair-syair cantik yang telah memenuhi memori otakku . Kala
aku tergiang kalimat indah yang amat puitis, aku sudah tak tahan untuk mencari
secarik kertas dan ingin segera menuliskannya. Aku sangat bergairah untuk
menyusun rangkaian kata-kata indah hingga tercipta sebuah syair,sajak, puisi,
cerita,bahkan menjadi nyanyian indah sekalipun.
Sebuah perasaan yang membuatku selalu ingin terus menerus merangkai kata di
kertas putih, sampai aku tak tahan jika aku melihat kertas yang bersih putih
tanpa untaian kata setitik pun. Aku adalah gadis yang maniak akan sajak, syair
indah dan kata-kata puitis.
***
“Apa kamu!! Aneh
sekali dirimu ... kerjaanmu hanya bisa berinteraksi dengan kertas dan pena
bututmu itu. Siang ini sudah sangat lah panas…., kenapa
harus ada gadis sepertimu di hadapanku? Mellihatmu hanya membuatku semakin
merasakan panas.” cemooh yang dilontarakan Ririn tak dihiraukan oleh Hyui gadis
yang maniak sajak itu.
“Hih, justru yang aneh itu adalah
kamu.” Balas Hyui dalam hati.
“Kasihan sekali orang sepertimu,
kamu hanya bisa mengarang cerita fiksimu saja. Aku akui kamu sangatlah pandai
dalam menciptakan tulisan indah. Tapi bagiku kamu ini pengarang sekaligus
penyair yang hanya membuat kepalsuan. Yang membuatku heran adalah kenapa kamu
bisa membuat kisah romance yang amat mendalam dan indah, padahal kamu
tidak pernah merasakan semua itu. Kamu adalah penipu yang handal...”
Mendengar perkataan yang
dilontarkan Ririn kepadanya, seketika ia membuka mulut dan berkata. “Benar, aku
memang patut dikasihani.., aku memanglah pengarang dan penyair
yang sering sekali melakukan penipuan. Aku seringkali membuat cerita yang
sungguh berbeda 180 derajat dengan kehidupanku. Aku menuliskan kisah percintaan
yang amat mendalam padahal aku sebenarnya tidak memahami dan aku belum pernah
mengalami namanya kisah cinta. dan pada kenyataanya aku sangatlah tidak tertarik
dengan yang namanya cinta.”
Jawaban yang dilontarkan Hyui
membuat Ririn hanya bisa menelah air ludah, karena ia kaget dan takjub, kenapa
orang seperti Hyui tidak terpancing amarah dengan perlakuan Ririn terhadapnya.
Konflik Ririn
dan Hyui kerap sering terjadi di sekolah ini , mereka sempat bertemu dalam satu
seminar karya tulis dan sempat ikut dalam satu kompetisi karya novel romance
remaja se- nasional, mereka merupakan
kandidat yang sama-sama mewakili SMA N 1 HAPLOID, hingga pada akhirnya yang menjadi
juara adalah Hyui. Ririn tak pernah menyangka Hyui lah yang akan
mengalahkannya. Selama ini ia mengira bahwa Hyui adalah penulis yang kuper,
namun Hyui tidaklah kuper, ia selalu mengetahui info-info terbaru mengenai
seminar pelatihan para penulis novel dan masih banyak lagi. Tetapi ada satu
sisi pada Hyui yang membuat Ririn heran, Hyui gadis maniak sajak ini tidak
pernah benar-benar merasakan cerita indah tentang cinta, padahal Ririn saja
yang pernah dikalahkan oleh Hyui sangat penuh warna kisah cintanya. Memang
gadis seperti Hyui sangatlah langka, ia tidak pernah memikirkan cinta di
kehidupannya. Tetapi ia lihai dalam merangkai cerita cinta yang menimbulkan
banyak pembaca jatuh hati pada karyanya.
“Ahh... sulit
sekali aku menahan perasaanku ini. Perasaan yang selalu ingin merangkai kata indah ini terus
berkecambuk. Aku rela melewatkan waktu makan siangku ini hanya demi menulis
ulang apa yang terlintas di benakku, aku tidak ingin ide yang baru saja
terlintas di otakku hilang begitu saja. Bagiku ide-ide ku ini sangatlah mahal
harganya.
“Hei, Hyui bukankankah sekarang
sudah jam 2 siang. Seharusnya semua siswa sudah pulang dan sampai di rumah
masing –masing.” Kata pak Rafi, penjaga sekolah yang sedang mengecek lingkungan
sekolah dan akan segera menutup gerbang sekolah.”Apa kamu akan menginap lagi di
sekolah hah? Sekali lagi kau menginap di sekolah akan kulaporkan ke orang tuamu
dan kepala sekolah.”
“sebentar pak, satu kalimat lagi
pak... seruku mempengaruhinya...”
“kapan kamu bisa berhenti menulis
hah? Sedari dulu kamu selalu saja menulis, sebenarnya kamu menuliskan apa to ?”
“hahaha, pak aku memang tidak
bisa berhenti menulis pak. Aku mual jika aku tidak menulis.”
“wah kamu ini kok yo aneh-aneh
aja, tidak menulis kok bisa mual to? “
“aaahhh,,... akhirnya selesai
juga pak, ya sudah aku pulang dulu ya pak.”
Tak lama
kemudaian aku tiba di halte bus kota, suasananya tidak begitu ramai, nyaman
sekali untuk kembali menuliskan ide-ide indah yang terlintas di benakku. Namun,
ketika aku belum sempat mengeluarkan pena kesayangan ku yang telah usang. Aku
menemukan sebuah pamflet tentang informasi lomba karya novel romance remaja,
pemenangnya akan ke Jepang dan novelnya akan di terjemahkan dengan bahasa jepang
dan dijual di sana. Ini adalah cita-cita ku selama ini. Siapa yang tidak bangga
jika karya kita dikenal banyak orang hingga ke lain negara. Aku tidak akan menyia-nyiakan
kesempatan emas ini. Aku berharap dewa keburuntungan selalu ada pada diriku.
Kucatat website lembaga penyelenggara lomba beserta nomor teleponnya.
Sesampainya di
wisma aku dikejutkan dengan kedatangan orang tuaku, aku langsung memeluk mereka
dengan erat. Ya, aku sudah lama tidak berjumpa dengan mereka. Orang tuaku
sangatlah menyayangiku, aku memaklumi mereka karena mereka hanya mempunyai
gadis manis nan mungil seperti ku, dahulu aku memiliki seorang kakak perempuan
yang perawakannya sama sepertiku, namun tuhan berkata lain, Ia mengambil
kakakku dengan cepat, ia meninggal ketika ia duduk di bangku kuliah semester 4
jurusan sastra indonesia. Ia sama sepertiku, ia gadis pecandu sajak. Kata-kata
indah nan puitis selalu terlintas di benaknya.
Mereka datang ke wismaku hanya
untuk memberikan sebuah amplop berisi lembaran uang bulananku dan membayar rasa
rindu mereka kepadaku. Tak lama, hanya 1 jam mereka berada di wismaku, dan
dengan segera mereka pulang ke kampung halaman tempat orang tuaku tinggal. Aku
bersekolah di daerah perkotaan dekat desa orang tuaku, dari desa ke kota bisa
menempuh 20 km.
***
Usai bertemu
orang tuaku, aku langsung teringat dengan usahaku selama ini. Aku memiliki
usaha cafe book, usaha ini sejak lama telah digeluti keluaragaku hingga
turun temurun kepadaku. Di cafe book ini menyediakan fasilitas tempat
yang nyaman untuk para pecinta buku, disini juga banyak novel best seller dari
penulis ternama salah satu dari mereka adalah almarhum kakaku, ia merupakan
penulis ternama yang karyanya banyak sekali penggemarnya. Novel yang
diciptakannya memiliki ciri khas dari segi romancenya, ia mengolah kisah
romance seindah mungkin sampai dapat membuat si pembaca ikut larut di dalamnya,
pilihan kata yang ringan nan mudah dipahami serta ridak berlebihan salah satu
keunggulan karya almarhum kakakku.
Di tengah lamunanku mmemikirkan cafe book,
aku teringat kembali pamflet yang kutemui di halte bus kota. Lalu dengan segera
ku hidupkan notebook putih milikku. Ku tik website lomba karya
novel romance remaja itu di peramban,
dan kubaca info-info yang tertera. Tiba-tiba keganjalan datang menghampiriku
ketika aku membaca keterangan yang berbunyi “peserta lomba diharapkan
menyajikan karya berdasarkan kisah cinta yang telah dialami.” Apa? Ketentuan
macam apa ini, aku sama sekali belum pernah merasakan kisah cinta selama
hidupku. Ya tuhan bagaimana ini? mungkin
aku benar-benar tak paham apa arti cinta. Bagiku cinta itu adalah sebuah
anugerah yang dapat membuat semua orang bahagia, tapi aku masih bingung apa
arti sesungguhnya cinta dalam kehidupanku? Aku memang penulis yang masih buta
tentang cinta. Selama ini aku membuat cerita cinta hanya berasal dari
imajinasiku. Aku hanya bisa membuat rangkaian cerita saja, tidak lebih. Aku
memang tak pandai dalam membuat kehidupan akan cinta. Memiliki kehidupan cinta
tak semudah mengarang kehidupan cinta. Iya, itu lah aku. Aku yang hanya bisa
mengarang kisah cinta.
Sore menggulung
menjadi malam, diriku tak menyangka malam akan tiba secepat ini. Kumatikan notebook
ku dengan
tergesa-gesa, niatku mengikuti lomba karya novel itu ku lupakan jauh-jauh. Aku
sekarang sedang ingin fokus dengan hobiku menulis dan fokus dengan usaha cafe
book milikku. Ku lihat jam dinding silver di kamar ku menunjukkan pukul 8
malam, saatnya aku bertugas menjaga cafe
book. Selama perjalanan ku menuju cafe
book aku memikirkan perihal yang amat bodoh yaitu cinta. ini pertama
kalinya aku memikirikan cinta semasa hidupku,
biasanya aku tak akan punya waktu untuk memikirkan cinta, menurutku cinta
adalah hal yang tidak begitu penting bagiku. Tapi mengapa... aku sungguh kesal
dengan diriku ini yang tidak pernah memiliki kehidupan tentang cinta. Sebegitu
pentingkah cinta ini? kenapa perlombaan karya novel yang ku dambakan sampai
menjadikan kehidupan cinta sebagai ketentuan
lomba... kenapa ha?? Aku butuh jawaban
yang pasti....
Baru beberapa
langkah, aku sudah mendapati keberadaan cafe
book Romansa. Ya, cafe book
milikku ini mempunyai nama Romansa, nama ini pemberian almarhum kakakku. Alasan
ia memilih Romansa sebagai nama cafe book
ini karena arti romansa adalah sebuah karangan yang mengandung kisah kepahlawanan
yang memperjuangkan cinta dan keromantisan dengan latar yang historis ataupun
imajiner, bagi almarhum kakaku perihal romansa ini dapat menciptakan
kedamaian dan kebahagiaan manusia.
***
Kugantungkan
jaket merah maroonku di pinggir kasir, aku merasa ada
yang aneh dengan pengunjung cafe book
pada malam ini. Aku sedikit bingung apa yang mereka lakukan, kenapa mereka membicarakan
pamfelt perlombaan karya novel romance itu?. Aku sudah muak mendengar
percakapan mereka. Mereka memandangku tajam, mereka menduga bahwa aku akan
mengikuti perlombaan itu . Mereka semua adalah para penggemar novel karya
almarhum kakaku, mereka juga sangat hafal siapa aku, aku adalah adik dari
novelis yang mereka kagumi. Menurut pandangan mereka aku adalah sosok yang
memiliki segudang kisah cinta, dan mereka mengira pasti aku pernah merasakan
semua itu. Namun pada kenyataanya aku sangat lah berbeda dengan apa yang mereka
duga. Aku sangat miskin akan kehidupan cinta, aku tak pernah merasakan
kehidupan cinta. Aku ini memang benar-benar gadis yang tidak beruntung. Aku adalah penulis yang hanya membual saja tentang cinta.
Tanganku bergerak dengan lincah ketika aku menulis cerita cinta, aku
sangat mudah menciptakan novel cinta. Ide-ide yang indah sangat melimpah di
otakku, tapi siapa yang menyangka bahwa aku selama ini hanya bisa menuangkan
semua itu menjadi karangan, aku tidak akan merasakan semua itu di dalam
kehidupanku. Aku hanya sekedar pengarang. Aku hanyalah pembuat kisah cinta
bukanlah pemilik kisah cinta.
***
“Cepatlah… apa yang akan kamu sampaikan kepadaku? Aku sudah memenuhi
undanaganmu. Aku rela datang ke cafe book
ini hanya untuk bertemu dengan mu. Cepat katakan semuanya kepadaku.. kamu
tahu.. kita ini sahabat, jadi tak perlu kamu takut dan malu untuk mengatakannya
kepadaku walaupun ini pertemuan kita pertama kali sejak setahun kita tak pernah
berjumpa.”
“Baik, aku akan segera mengatakan kepadamu. Hhmmmm….kamu tahu?, seluruh
hidupku akan kuhabisnkan dengan hobi menulisku ini, aku tidak akan berani
memikirkan kisah cinta hidupku.”
“Kenapa kamu tidak mau memikirkan kisah cinta hidupmu? Apa usaha cafe book ini yang telah menjadikanmu
seperti sekarang ini?
“tidak Ammar, ini semua tidak ada kaitannya dengan usaha cafe book milikku.”
“Lalu, apa karena perasaan itu?”
“Perasaan apa Ammar?”
“Bukankah kamu selama ini tersiksa dengan perasaanmu itu? Perasaan yang
selalu saja ingin merangkai kata di atas kertas, menuliskan imajinasimu, menciptakan
sebuah karangan indah. Tapi kamu ini gadis yang hanya bisa menuliskannya saja.
Kamu tidak ada keinginan melakukan apa yang telah kamu tuliskan.”
“Apa maksudmu Ammar?”
“ Kamu tidak bisa hanya menuliskan kisah cinta saja. Tapi kamu patut
merasakan apa yang kamu tuliskan semua itu. Kamu pasti punya kehidupan cinta…
dan jika kamu pernah merasakannya pasti kamu akan mengikuti lomba karya novel
itu, dan kamu akan menjadi pemenangnya.
“kamu ini sangatlah bodoh Hyui.. apa kamu selama ini mengira jika kamu
buta akan cinta? Kenapa kamu begitu menerima ejekan Ririn yang menyebutmu
sebagai penulis yang tidak pernah merasakan kehidupan cinta. Dan kenapa kamu
semudah itu untuk mengiyakannya? Kenapa Hyui??”
“kamu telah termakan ejekan si pengecut itu. Ririn selama ini ingin
membunuh pretasimu yang melimpah di bidang karya novel romance remaja. Dan kenapa kamu sangatlah yakin jika kenyataanmu
itu menunjukkan bahwa kamu tidak tertarik dengan kehidupan cinta… kenapa ha…?
Kamu ini membuatku marah…aku marah karena aku gemas kepadamu yang tidak peka
dengan semua ini… bahkan kamu menganggap
dirimu itu miskin akan kehidupan cinta. Itu semua salah Hyui….”
“Apakah kamu selama ini melupakanku? Aku adalah pemuda yang kamu
ceritakan dalam semua seri novelmu itu…Kamu telah menyukaiku dan kamu telah
mencintai ku sejak kamu duduk di kelas 11. Itu semua adalah bukti Hyui… bukti
bahwa kamu telah merasakan kehidupan cinta….. sekarang kamu sudah yakin kan?
Kamu adalah penulis novel romance
yang pernah mengalami kehidupan cinta. Kamu sekarang tidak perlu ragu untuk
mengikuti lomba karya novel itu, bukankanh kamu sangat menginginkan pergi ke
Jepang? Jadi kamu harus memanfaatkan perlombaan itu.”
Mengetahui bahwa Ammar telah selesai berbicara, Hyui mulai menatap mata
Ammar dan berkata.
“Kamu benar, sebenarnya aku memilikimu, sebenarnya aku selalu
mengingatmu, sebenarnya aku pernah memiliki kehidupan cinta, yaitu kehidupan
cinta bersamamu. Tapi, ketika ku jauh darimu aku merasa bahwa itu semua hanya
imajiasiku saja, aku merasa aku hanya membual saja, aku merasa bahwa aku hanya
mengandaikannya saja,aku merasa bahwa aku hanya bisa mengarang kisah cinta
saja, aku merasa bahwa aku sulit memiliki kehidupan cinta. Dan …….. aku merasa
bahwa sekarang ini juga hanya sebuah imajinasiku saja.”
“Cukup…” Ammar memotong pembicaraan.
“Aku tidak ingin kamu meneruskan ucapanmu itu..” kamu hanya butuh aku.
Ya, semuanya akan baik-baik saja jika kamu selalu di dekaku.
Komentar
Posting Komentar